Masjid Terbesar di Kroasia

Mengunjungi kota-kota besar Eropa tidak akan lengkap jika tidak berkunjung ke masjid setempat. Jumlah Muslim yang minoritas tidak menjadi halangan bagi umat Islam lokal untuk membangun masjid yang megah dan menawan. Di Zagreb, masjid terbesar di Kroasia berdiri dan memiliki tiga kubah hijau dengan bentuk yang unik. Meski jumlahnya hanya sekitar 1,5 persen dari keseluruhan penduduk Kroasia, Islam bukan agama baru di negeri ini. Islam datang berabad lalu bersamaan dengan pedagang Muslim asal Bosnia di pertengahan abad ke-18. Saat ini, sepertiga dari keseluruhan Muslim Kroasia tinggal di ibukota, Zagreb.

Saat berkunjung ke Zagreb untuk berlibur, saya dan keluarga tidak melewatkan waktu untuk mengunjungi Masjid terbesar di Kroasia ini. Mencari informasi tentang Masjid ini di dunia maya pun tidak sulit. Saya langsung jatuh cinta melihat fotonya saat menjelajah di dunia maya. Menurut informasi, lokasinya terletak di Jalan Gavellina 40, Zagreb-Folnegovicevo Naselje yang mudah dicapai dengan transportasi umum dalam kota dan tidak jauh dari Jarun juga sungai Rijeka Sava. Pelatakan batu pertama Masjid ini dilakukan pada tahun 1981 di area yang dulunya merupakan pinggiran Zagreb. Saat ini, sudah ada jalan yang menghubungkan area lokasi Masjid dengan pusat kota, sehingga mudah untuk dijangkau dengan kendaraan pribadi ataupun transportasi umum. Terletak di satu area luas yang dikelilingi lapangan rumput dan pepohonan, bangunan ini merupakan bukti keberadaan Islam sebagai agama ketiga yang paling banyak dianut di Kroasia. Pembangunannya tidak diiringi kemudahan. Berkat ketangguhan dan kegigihan anggota komunitas Muslim di Zagreb, Masjid ini akhirnya dibuka tahun 1987. Masjid ini pun ikut berperan menjadi tempat mengungsi ribuan orang ketika terjadi Perang Balkan tahun 1991-1995 saat Kroasia memisahkan diri dari Yugoslavia dan diperangi oleh tentara Serbia. Kami datang menjalang Shalat Dzuhur dan suasana Masjid terlihat sepi. Satu menara berpucuk hijau menjulang ke angkasa berdekatan dengan kubah hijau unik. Kubah didesain asimetris, tidak membentuk satu kubah utuh dan bulat, tetapi tinggi mengerucut saling bertumpang tindih. Banyak kubah bulat kecil menghiasi bagian lain atap kompleks Masjid. Semua dinding berwarna putih, kecuali kubah dan pucuk menara. Pintu masuk Masjid dapat dicapai setelah menaiki anak tangga di bagian muka.

Saya dan keluarga memuaskan diri untuk menikmati ukiran tiga pintu tembaga di bagian depan dan air mancur di dekat pintu masuk masjid. Interior dalam Masjid tampak mewah dengan lantai keramik didominasi warna coklat dan krem. Di dindingnya berderet foto-foto lama suasana Masjid. Kami membuka sepatu dan menyimpannya di deretan lemari penyimpanan. Lalu, memasuki satu pintu untuk menuju ruangan Shalat. Khusus untuk ruangan Shalat perempuan ada di lantai dua. Tur isi Masjid berlanjut usai Shalat. Beberapa orang berusaha mengajak mengobrol dalam bahasa mereka, namun kami menjawab dalam bahasa Inggris. Saling tak mengerti, namun di saat itulah senyuman lebih bernilai dari jutaan kata. Kami senang dapat bersilaturahmi dengan mereka di Islamska Zajednica, tempat komunitas Muslim kota Zagreb berkumpul. Kami berjalan menyusuri koridor. Kompleks ini lumayan besar dan memiliki banyak ruangan dengan sebagiannya digunakan sebagai kelas-kelas belajar. Kami pun menemukan area Masjid yang cukup unik, yaitu sisa-sisa Masjid pertama Zagreb sebelum dikonstruksi ulang. Mihrab, mimbar, laci-laci kayu berwarna coklat, foto-foto tua, serta kaligrafi di dinding sekitar mihrab menjadikan area ini mirip seperti museum mini. Sebuah pembatas menandai bahwa pengunjung hanya boleh melihat dari jarak tertentu. Pada area Masjid lainnya terdapat area untuk berolah raga. Berbagai area yang ada di Masjid ini menjadikannya tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga tempat belajar, berolah raga, dan berkumpul dengan saudara seiman lainnya. (Words and Images : Irawati Prillia - @iprillia)