Cahaya Islam di Byalistok Polandia

Kisah peradaban Islam memang selalu menggugah. Inilah yang mengantarkan tim Jazirah Islam Trans 7 untuk menjelajahi Polandia.

Polandia memiliki sejarah yang sangat panjang untuk menjadi Negara merdeka. Bahkan Negara ini pernah lenyap dari peta Eropa selama 123 tahun. Namun siapa menyangka Islam turut memberi memberi warna bagi bangsa Polandia. Muslim Tatar dari Asia Tengah datang pada abad ke-14, menetap dan berasimilasi dengan warga sekitar.

Sayangnya seiring waktu bergulir bangsa Tatar tidak lagi menjadikan Islam sebagai pegangan hidupnya. Ketika perang dunia I dan II, Polandia berada di bawah cengkeraman Rusia dan Jerman. Imbasnya, kehidupan beragama sangat dikekang. Tidak terkecuali bagi para Muslim Tatar. Alhamdulillah, secercah cahaya datang, melalui Dagmara Sulkiewiczsatu. Ia adalah satu dari sedikit Muslimah berdarah Tatar yang gigih berjuang di jalan Allah. Dagmara bekerja sebagai staf di masjid kota Byalistok. Tidak hanya itu, deretan aktivitas lain selalu memadati hari-hari Dagmara. Setiap akhir pekan, Dagmara mengajar anak-anak muslim yang tidak mendapatkan pelajaran agama di Sekolah. Bahkan ia juga rutin mengenalkan Islam ke anak-anak non muslim. Dagmara mengajak tim Jazirah Islam untuk berkunjung ke Kruszniany satu dari dua desa asli muslim Tatar di Byalistok. Kruszniany merupakan satu dari beberapa wilayah yang dihadiahkan oleh raja Polandia, John Sobiesky ketiga. Kepada para prajurit Tatar atas pengabdian mereka. Bangsa Tatar kemudian bermukim di sini dan meninggalkan jejak yang masih terukir jelas hingga sekarang. Salah satu bukti peninggalan bagsa Tatar yang masih megah berdiri adalah masjid. Masjid tertua, tidak hanya di Kruszniany tapi juga di Polandia. Masjid ini dahulu dibangun oleh umat Katolik pada 1795. Karena bangsa Tatar hanya andal berperang tidak cakap mendirikan bangunan. Tidak mengherankan, masjid ini lebih menyerupai gereja. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi penanda sejarah. Pernah hancur pada perang dunia I dan sempat menjadi rumah sakit Jerman saat perang dunia II adalah sedikit kisah yang terukir. Selain masjid, ada pula pemakaman Tatar yang sudah ada sejak 1699. Makam ini terbagi menjadi dua bagian. Nisan batu adalah makam para pejuang Tatar di waktu lampau. Sementara yang berlapis keramik adalah peristirahatan Bangsa Tatar sekarang. Banyak rintangan yang dialami Dagmara menjadi Muslim di Polandia. Ia seriang diasosiasikan dengan teroris atau ISIS. Tidak bisa keluar malam karena takut ada yang meneriakinya teroris atau menarik hijabnya. Suaminya, Marek Pottorzycki juga satu-satunya muslim di tempat kerja. Ia sering kesulitan untuk menjalankan salat atau puasa. Namun pasangan ini tidak pernah mengeluh apalagi menyerah. Mereka bangga sebagai muslim Tatar Polandia, yang menjadikan Islam sebagai lentera kehidupannya. Saksikan kisah inspiratif Mualaf lainnya di program Jazirah Islam Trans 7, tayang selama Ramadan pukul 04:45 WIB. (Instagram: @news_trans7 @jaziraislam7)