Eksotisme Jajaran Pulau Flores

Tidak pernah habis bila membicarakan tempat indah di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke, terbentang kekayaan dan kecantikan Ibu Pertiwi. Sari Suwardji membuktikannya, Labuan Bajo patut diperhitungkan untuk tujuan wisata. Labuan Bajo, sebuah pelabuhan kecil yang cantik merupakan pintu masuk menuju Taman Nasional Komodo, Flores.

Berangkat dari kota metropolitan, perjalanan menuju Labuan Bajo ditempuh dengan pesawat terbang menuju Denpasar, Bali. Namun, bayang-bayang saya akan keelokan Labuan Bajo belum bisa terealisasikan, karena saya harus menginap dulu di Denpasar. Esok harinya, setelah merehatkan badan, dan siap akan segala barang bawaan, perjalanan ke Labuan Bajo pun dimulai. Dengan menumpang pesawat Trans Nusa jam 07.00 WITA, saya tidak sabar untuk bisa menikmati pemandangan Labuan Bajo, namun karena delayed alhasil baru tiba di Labuan Bajo jam 11.30 WITA. Saat tiba di bandara kecil kami sempat agak bingung bagaimana caranya menuju hotel. Karena tidak ada taksi, yang ada hanyalah kendaraan pribadi yang disulap menjadi taksi. Dan tariff yang dipatokpun cukup mahal sekitar 50 ribu. Karena ternyata jarak hotel dan bandara sangat dekat. Hanya memakan waktu 10 menit, saya sampai di hotel Centro Bajo. Hotel dengan rate yang cukup murah 1.4 juta sudah mendapat kamar double bed + breakfast 3 hari. Tidak perlu berlama-lama, setelah sholat dzuhur saya memutuskan untuk keliling Labuan Bajo, it’s time to holiday. Let’s go.. Tujuan pertama adalah makan siang, dan guide kami merekomendasikan di Tree Top Resto. Karena restoran ini viewnya langsung ke pelabuhan, sehingga kita bisa menikmati pemandangan deretan pulau-pulau sambil menikmati hidangan. Ditambah lagi, cita rasa yang disajikan di rumah makan ini mampu mengoyang lidah saya. Selesai makan siang, perjalanan kita lanjutkan ke Mirror Cave, cukup membayar Rp. 20.000/orang plus tip sukarela untuk guidenya. Untuk perjalanan ke Mirror Cave, saya sarankan Scarf Lover jangan memakai sandal atau sepatu yang licin. Karena jika musim hujan, jalanan menuju kesini licin dan berlumpur. Untuk menikmati suasana gua, hal yang tidak boleh terlupakan adalah mengabadikan moment. Setelah puas dengan koleksi pemandangan gua dan tentunya kenarsisan diri sendiri, kami melanjutkan untuk memanjakan mata kembali. Kali ini, anugerah Allah SWT yang kami nikmati adalah bukit cinta. Dinamakan bukit cinta karena banyak dipakai pemuda-pemudi sana untuk pacaran, disini Scarf Lover bisa melihat pemandangan dermaga dan lautan yang terbentang luas. Subhanallah. Puas menikmati keindahan Bukit Cinta, saya memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat menyiapkan fisik, karena besok akan mulai perjalanan melihat komodo.

Jam di kamar hotel menunjukkan jarum di angka delapan. Kami sudah kedatangan guide untuk mengantarke pelabuhan. Guide kami, Mas Tony, hanya mengantar sampai pelabuhan. Dia tidak ikut dalam perjalanan, karena di kapal sudah ada 3 orang yaitu kapten kapal, dan 2 awak kapal. Kapal dek kami bernama “Rainbow” , kapal sederhana dengan kamar dan kamar mandi seadanya. Fasilitas dikala ini dirasa cukup lengkap mulai dari cooler box, bantal, guling, selimut dan listrik. Alhamdulillah. Rute perjalanan kali ini adalah melihat komodo di Rinca Island, kemudian Kambing Island dan terakhir Kalong Island. Sepanjang perjalanan menuju Rinca Island, tak hentinya saya berdegup kagum dan mengucap Subhanallah karena melihat pemandangan yang luar biasa indah. Begitu sampai di Rinca Island, diri ini sungguh tidak sabar melihat komodo. Binatang purba yang menjadi salah satu seven wonders dunia ini menjadi kebanggaan Indonesia. Untuk melihat binatang ini, kita akan dibantu Ranger. Namun, Ranger sendiri tidak bisa menjanjikan, karena tak jarang komodo-komodo tersebut bersembunyi dan hanya bisa melihat jejaknya saja. Tapi Alhamdulillah, kami bisa melihat Komodo dan sarang komodo, girang bukan kepalang. Komodo sebagai salah satu binatang langka ini, memang patut dipelihara karena jumlahnya yang semakin sedikit di Indonesia. Scarf Lover, di Rinca Island itu panas sekali, jadi jangan lupa untuk menggunakan sunblock, dan membawa kacamata. Sudah puas menikmati Rinca Island, saya melanjutkan perjalanan ke Kambing Island. Di sana kita bisa snorkeling. Tapi berhubung kami tiba saat siang hari dan cuaca terik, akhirnya kami memutuskan hanya singgah dan melanjutkan perjalanan ke Kalong Island. Perjalanan ke Kalong Island memakan waktu sekitar 2 jam, dan selama perjalanan menuju Kalong Island, kami disuguhkan oleh pertunjukan cantik para lumba-lumba, mereka saling berlompatan di lautan, seolah menyambut perjalanan kami. Sore hari, sampailah kami di Kalong Island. Dinamakan Kalong Island karena banyak kelelawar di sana. Kami bermalam di atas kapal sambil melihat sunset, kelelawar dan burung yang berterbangan di atas kapal. Pagi hari, kami kembali ingin melihat komodo di Komodo Island. Di Komodo Island, selain bisa melihat komodo, banyak juga binatang lain yang bisa kita lihat. Di sana ada babi hutan, rusa, burung kakak tua dan lainnya. Selain binatang, di Komodo Island juga kaya akan habibat tumbuhan. Banyak terdapat pohon beracun, pohon buah-buahan yang menjadi tempat para komodo mencari makan. Kurang lebih 2 jam kami menikmati Komodo Island, sekarang waktunya snorkeling di Pink Beach. Pink Beach ini memiliki pasir berwarna merah namun bila terendam air dan terkena sinar pasirnya menjadi pink, “Subhanallah.” Melihat komodo, berenang di pink beach rasanya membuat saya enggan untuk kembali ke Jakarta, tapi apa boleh buat hari sudah beranjak sore, dan harus kembali ke Labuan Bajo, karena esok hari harus pulang, ke Jakarta. (Words Sari Suwardji)