Belajar Tentang Kesabaran Serta Semangat Berkreatifitas Dari Desa Pande Sikek

Ada perasaan bangga bercampur haru saat mengenakan sehelai kain indah yang mengundang decak kagum. Apalagi ketika mengetahui bagaimana kain itu dibuat dengan penuh kesabaran dalam hitungan bulan, juga filosofi di balik motifnya. Inilah sekelumit catatan saya saat mengunjungi Desa Pande Sikek, sebuah desa penghasil kain tradisional di Sumatera Barat. Desa Pande Sikek terletak di kaki Gunung Singgalang, tepatnya di Kabupaten Tanah Datar. Nama desa ini tertera pada selembar uang kertas 5000 Rupiah. Dari Kota Bukittinggi, waktu tempuh ke desa ini sekitar 25 menit.

Pemandangan Gunung Merapi dan Gunung Singgalang tersaji sepanjang perjalanan. Di kaki-kaki gunung itu terhampar sawah, kebun, lembah, serta hutan alam yang masih perawan. Kabut tampak menggantung di puncak-puncak bukit, menemani perjalanan saya yang selalu diselimuti udara sejuk khas pegunungan. Pande Sikek adalah desa wisata yang merupakan salah satu obyek wisata terbaik di Sumatera Barat. Pande Sikek berasal dari kata Pande yang artinya pandai, sedangkan Sikek artinya sisir. Sisir yang dimaksud bukan sisir biasa yang digunakan untuk rambut, melainkan sisir halus yang berukuran besar dan digunakan pada alat tenun. Pande Sikek berarti pandai menggunakan sisir (alat tenun). Para pengrajin di Desa Pande Sikek tak hanya menghasilkan salah satu kain tenun terbaik di Indonesia, tetapi juga ukiran kayu yang dijual sebagai kerajinan khas untuk souvenir. Desa Pande Sikek hanya berjarak 1 km dari jalan utama Kabupaten Tanah Datar. Lokasinya mudah ditemukan. Di pintu gerbang desa tertulis, “Pusat Inovasi Tenun Pande Sikek”. Saat mulai memasuki desa, tampak Gunung Singgalang menjulang di latar belakang. Atap-atap rumah menyembul di lereng-lerengnya. Kebanyakan rumah penduduk di sini terlihat modern, berupa rumah-rumah beton permanen dengan berbagai model, namun tetap beratap khas rumah adat Minangkabau. Rumah-rumah seni yang ada di Desa Pande Sikek tak hanya menjual beragam hasil kerajinan khas daerah, seperti aneka kain songket, mukena bordir Padang, busana wanita (gamis, kebaya, baju kurung), aneka kerudung, kopiah, dan aneka barang kerajinan kayu. Tetapi, juga memajang alat tenun, memperlihatkan cara menggunakan alat tenun, dan cara menciptakan sebuah karya seni bernama songket kepada para wisatawan yang berkunjung.

Menurut pengrajin songket Rumah Seni Satu Karya yang saya temui, bahan baku kain songket adalah sutra, benang mas, dan katun. Untuk katun dan sutra bisa didapat di Sumatera, sedangkan benang mas diimport dari India. Pemasangan benang untuk satu kain songket memerlukan waktu 1 minggu. Jumlah benang harus 880 helai, dibagi dua untuk atas dan bawah. Untuk menghasilkan 1 buah kain songket diperlukan waktu 3 bulan. Untuk 1 selendang songket diperlukan waktu 1 bulan. Kesempatan terbaik saya saat berada di sini adalah ketika mencoba memasukkan benang, bambu, serta menghitung benang. Namun apa yang terjadi? Dalam waktu 20 menit saya tidak menghasilkan apapun. Sungguh sebuah pengalaman yang mengajarkan saya betapa sulitnya membuat kain songket. Keterampilan kaki dan tangan, diiringi dengan kejelian, serta sebuah "alat" yang paling penting selain benang, kayu, bambu, adalah sesuatu yang bernama kesabaran. Rumitnya proses pembuatan itulah yang menyebabkan harga kain songket mahal di pasaran. Namun, dibanding di toko-toko, pasar, dan mal-mal di kota besar, kebanyakan wisatawan lebih memilih datang dan membeli langsung di Desa Pande Sikek, karena harga kain songket dan barang kerajinan kayu yang di jual di desa ini masih bisa dibeli dengan harga sedikit lebih rendah. Saya mendapat pengalaman berkesan di desa ini, dimana bukan sekedar melihat hasil karya, tetapi juga melihat proses karya itu diciptakan. Pelajaran berharga tentang makna sebuah kesabaran, serta semangat berkreatifitas, menjadi oleh-oleh manis dari Pande Sikek. (Words and Images Katerina - @Travelerien)