Menikmati Pesona Indah Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep

Pemandangan hijau alami dengan udara sejuk dan menyegarkan, menyambut kedatangan kami ketika tiba di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Rasa penat seusai berkendara selama 2,5 jam dari Kota Mataram yang berjarak tempuh sejauh 60km, seakan menguap ketika akhirnya berdiri di pintu masuk wisata Air Terjun Sendang Gile dan Air Terjun Tiu Kelep. Ya, inilah tujuan perjalanan kami, melihat langsung pesona kedua air terjun terkenal yang terletak di sisi utara kaki Gunung Rinjani.

Dengan membayar tiket masuk seharga Rp 5.000,- kami mulai berjalan menyusuri lembah terjal melalui tangga beton yang berjumlah 315 anak tangga. Rimbun hutan di sekitar lembah, gemericik suara air yang mengalir di parit, serta aroma tanah yang basah, seakan begitu kuat merangsang syaraf untuk menjelajah. Medan yang ditempuh tidak terlalu berat, dalam waktu 20 menit saja jarak 800 meter berhasil dilalui. Kami pun tiba di air terjun yang paling dekat dengan pintu masuk, Sendang Gile. Pesona Air Terjun Sendang Gile yang memiliki ketinggian kurang lebih 31 meter, memang sungguh menawan. Dari atas tebing, air meluncur deras dan jatuh sebanyak dua kali. Pertama, air meluncur jatuh ke kolam, selanjutnya dari kolam air meluncur jatuh ke tingkat paling bawah di sungai. Sementara, bebatuan besar yang licin dan berlumut bertumpuk di dasar sungai ditimpa oleh air yang jatuh menimbulkan suara gemuruh tiada henti. Kabut pun terus menerus berhembus hingga membuat tumbuhan disekitar menjadi basah dan udara terasa semakin sejuk. Perjalanan dari Sendang Gile menuju Tiu Kelep membutuhkan waktu sekitar 40 menit dengan berjalan kaki. Seorang guide yang kami sewa sejak dari pintu masuk menemani perjalanan menuju Air Terjun Tiu Kelep. Kami menaiki dan menuruni ratusan anak tangga, melintasi jembatan, melewati jalan setapak mengikuti aliran irigasi, menyeberangi sungai yang berbatu hingga melintasi jalan setapak diantara hutan lindung yang lebat. Pohon tinggi dan rimbun seakan mengepung lembah. Sesekali terlihat hewan kera berjalan, berlari, dan melompat. Sebuah pemandangan yang tidak dijumpai pada hari biasa.

Perjalanan berat terbayar lunas saat tiba di Air Terjun Tiu Kelep. Subhanallah, air terjunnya ternyata lebih besar, lebih deras, lebih indah, dan lebih menakjubkan. Suara gemuruhnya pun terdengar lebih keras, buih beterbangan, hempasan air menciptakan kabut, angin yang berhembus menerbangkannya ke sekitar, dan udara sangat dingin. Namun, semua terasa hangat saat melihat indahnya lengkung pelangi di ujung air terjun. Kolam luas tempat air jatuh dari ketinggian 42 meter, ternyata memiliki dasar yang lembut dan datar. Tidak ada batu besar dan licin di dalamnya. Kedalaman air hanya setinggi pinggang orang dewasa, sehingga memungkinkan untuk berenang. Airnya yang bening membuat siapapun tak tahan ingin berendam. Sangat menyenangkan dapat menikmati kesegaran air yang berasal dari Danau Segara Anak di puncak Gunung Rinjani. Aktifitas menyisir sungai-sungai kecil di Tiu Kelep pun menjadi pengalaman yang kental dengan nuansa petualangan. Kekayaan alam Indonesia memang selalu memberi kejutan yang menyenangkan. (Words and Images : Katerina - @Travelerien)