Merindukan Bedug Maghrib di Singapura

Itulah yang saya rasakan selama menjalankan puasa Ramadhan di Singapura. Padahal, bagi orang yang berpuasa, suara bedug maghrib merupakan hal yang paling ditunggu. Di Singapura, kumandang adzan memang tidak diperbolehkan terdengar sampai keluar masjid. Dari 69 masjid yang ada di Singapura, hanya dari Masjid Sultan yang berlokasi di Muscat Street dapat terdengar suara adzan yang berkumandang lewat speaker. Jadi selama berpuasa di Singapura, saya selalu membawa jadwal Shalat yang didownload dari www.muis.gov.sg. Mendengarkan radio juga merupakan salah satu pilihan lain untuk mengetahui waktu Shalat.

Meskipun negara seluas 697 km2 ini bertetangga sangat dekat dengan Indonesia, tetapi suasana Ramadhan tetap saja terasa berbeda. Terlebih kalau kita sedang berada di pusat keramaiannya, seperti di Merlion Park, Sentosa Island, ataupun Orchard Road, sedikit pun kita tidak akan merasakan suasana Ramadhan. Pada siang hari, rumah makan tetap buka seperti hari biasa, tanpa penutup seperti yang sering ditemui di Indonesia. Suasana Ramadhan baru terasa di kawasan Geylang Serai ataupun di sekitar Masjid Sultan. Selama sebulan penuh digelar bazar Ramadhan yang cukup meriah. Setiap sore menjelang Maghrib, area sekitar Masjid Sultan, yang merupakan masjid tertua di Singapura dipenuhi oleh pedagang makanan. Jenis makanan yang ada mulai dari makanan khas Melayu sampai dengan makanan India dan Timur Tengah, seperti laksa, nasi lemak, kebab, samosa, juga roti prata. Di kawasan Geylang Serai, yang merupakan pusat kebudayaan Melayu di Singapura, suasana bazar Ramadhan terasa lebih meriah lagi. Berbagai lampu dengan ornamen berbentuk Masjid bertuliskan ‘Salam Aidil Fitri’ menghiasi sepanjang jalan Upper Changi Road, tepatnya dari Geylang Serai hingga ke perempatan Tanjung Katong Road.

Selama bulan Ramadhan, Masjid juga menyediakan takjil gratis seperti layaknya di Indonesia. Tak hanya makanan ringan, di beberapa Masjid besar bahkan menyediakan makanan utama yang terdiri dari nasi dan lauk pauk. Namun, ada satu jenis makanan yang selalu tersedia di semua Masjid di Singapura, yaitu bubur lambuk atau lebih dikenal dengan nama bubur Masjid. Bubur lambuk merupakan bubur nasi yang dicampur dengan daging, rempah, dan kacang-kacangan. Puasa Ramadhan tak lengkap apabila tidak dibarengi dengan Shalat Tarawih. Masjid di Singapura pun selalu penuh dengan jamaah yang terdiri dari beragam suku bangsa, mulai dari Melayu, Chinese, India, Bangladesh, maupun European. Masjid Istiqomah di dalam kompleks KBRI juga selalu dipenuhi jamaah. Meskipun penduduk yang beragama Islam hanya 15% dari total 4 juta penduduk Singapura, tetapi mencari makanan halal di Singapura tidaklah sulit. Di setiap penjuru kota, akan mudah ditemukan rumah makan dengan logo ataupun sertifikat bertanda ‘HALAL’ dari MUIS (Majelis Ulama Islam Singapura). Menjalankan ibadah Ramadhan di negara heterogen seperti Singapura sebenarnya tidak sulit, karena sejatinya, penduduk Singapura memiliki sikap toleransi yang cukup tinggi. Tetap saja, tanpa suara bedug maghrib, rasanya ada yang kurang. (Words and Images : Rosdiana - @dieend18)