Trends That Never Goes Wrong : Animal Print

Pada abad ke 18, bangsa Asia dan Afrika mulai terkena ‘demam’ dari Eropa yang mulai mewabah. ‘wabah’ yang tularkan berkenaan dengan kiblat fashion yang mereka ajarkan, bangsa Eropa menularkan kegemaran mereka dalam berburu kulit binatang. Pada jamannya, fabric dengan pattern animal print ini umumnya digunakan oleh kalangan kelas atas, atas dasar keterbatasan dan kelangkaan material juga perjuangan yang dibutuhkan untuk mendapatkan bahan yang sangat bagus, tentunya hal ini membuat animal print sulit dijangkau oleh kelas menengah ke bawah.

Dalam setiap musim, setidaknya dua atau tiga brand mengangkat tema besar dengan motif yang terinspirasi dari dominasi warna kulit binatang. Seperti tahun ini, Jimmy Choo dan Gucci mulai melansir tema African yang tak dipungkiri melibatkan animal print sebagai koleksi terbaru mereka. Di musim-musim lalu, motif leopard dan zebra pun tidak sedikit ditemukan dalam pagelaran Haute Couture Week. Keeksotisan motif animal print yang menjangkau cukup luas berbagai musim membuatnya fleksibel. Misalnya, pada summer season, koleksi animal print akan cenderung segar dan beach wear friendly. Sedangkan ketika musim dingin tiba, aplikasi animal print bisa saja ditemukan melalui kehangatan coat atau jacket yang menambah tampilan Anda semakin edgy.

Warna dasar animal print sebetulnya adalah paduan dari warna yang sangat dasar. Hitam dengan cokelat, hitam dengan putih atau putih dengan cokelat. Tidak jarang pula ditemukan satu warna hanya dengan tone yang berbeda hingga menciptakan gradasi yang apik. Salah satu siasat yang ampuh biasanya fashionista menjadikan animal print sebagai sentuhan akhir. Misalnya, saat padu padan basic colour, animal print bisa diusung menjadi motif sun glasses yang tampil sebagai pemanis. [Words Annisa Nugraha | Image Istimewa]